Art ‘n Craft Movement

April 7, 2009

Art ‘n Craft Movement

Pengertian

Sebuah gerakan di mana terjadi pada saat revolusi industri, daya kerja manusia digantikan dengan daya kerja mesin. Gerakan ini berusaha menghidupkan kembali keterampilan tangan manusia dalam seni kriya (craft).

Gerakan ini dipelopori oleh John Ruskin dan William Morris pada tahun 1888 di Inggris. Ruskin mengkritik kondisi sosial buruh di Inggris yang sangat menyedihkan pada awal revolusi industri, karena daya kerja buruh sudah digantikan oleh mesin-mesin, kemudian ide ini diaplikasikan oleh murid Ruskin, yakni William Morris dalam menghasilkan produk-produk logam, furniture, tekstile, barang cetakan dan sebagainya yang bergaya Gothic dan oriental (ketimuran). Gaya oriental termasuk China dipopulerkan melalui adanya jalur sutra yang menghubungkan antara benua-benua sehingga terjadilah pertukaran budaya melalui para pedagang saat itu.

Ruskin dan Morris memiliki paham sosialis, adalah:

  1. reformasi sosial
  2. penolakan metode kerja pabrik, di mana buruh bekerja tanpa adanya kesenangan dalam memproduksi sebuah barang.
  3. menghasilkan barang yang indah dengan harga terjangkau.

Namun, paham kemudian dikritik oleh seorang ”mata-mata kebudayaan” dari Jerman, Herman Muthesius, yaitu walaupun berusaha menyediakan barang-barang indah untuk masyarakat banyak, namun ternyata barang yang dibuat menjadi mahal dan hanya dapat dijangkau oleh kalangan kaya di Inggris.

Sementara itu, sejak 1850-an Inggris mereformasi jalur pelatihn tradisionalnya menggabungkan cara kerja prekiya dengan akademi seni, tujuannya Inggris ingin mempertahankan keunggulannya dalam bidang kriya (handicrafts).

Sejak saat itu, muncullah gilda-gilda di mana para artisan bekerja menggabungkan fungsi ekonomis dengan gaya hidup masyarakat tradisional setempat.

Di Austria pengaruh dari gerakan Art and Craft ini menyebabkan berdirinya Winner Werkstatte, bengkel kriya yang didirikan pada tahun 1903 oleh Josef Hoffman, Koloman Moser dan Fritz Warndorfer.

Apa yang dimaksud dengan gerakan Art and Craft movement?

Art and Craft movement adalah gerakan didirikan di Inggris dengan prinsip-prinsip filosofis terinspirasi dari tulisan-tulisan dari John Ruskin dan mungkin paling terkait erat dengan William Morris. Empat prinsip dari gerakan Seni dan Kerajinan dapat diidentifikasi: desain kesatuan, sukacita dalam pekerjaan, dan individualisme regionalism. Pada saat banyak praktisi dalam seni dan desain merasa yakin akan pentingnya kembali ke prinsip dasar, dengan sifat dan bahan yang digunakan memberikan mereka inspirational sumber. The Great Exhibition 1851 yang telah dismayed William Morris dan teman-temannya – mereka yang dianggap massa-pameran yang akan dihasilkan tanpa seni atau jiwa – dan di 1888 yang baru dibentuk ‘Seni dan Pameran Kerajinan Masyarakat’ dipamerkan di Galeri Baru, London. Para ilustrator Walter Crane memberi tujuannya sebagai ‘untuk mematikan kami menjadi seniman dan pengrajin pengrajin kami menjadi seniman’. Gerakan ini berkembang populer di seluruh Kepulauan Inggris, tersebar ke Eropa, Skandinavia, Amerika dan Jepang nanti.

.

.

Beberaa Contoh gambar Art n Craft Movement:


Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

April 7, 2009

CONSTRUCTIVISM

Constructivism merupakan gerakan seni dan arsitektur di Rusia yang berasal dari 1919 selanjutnya yang menolak gagasan “seni untuk seni demi” demi seni sebagai sebuah praktek diarahkan untuk tujuan sosial. Constructivism sebagai kekuatan aktif berlangsung sampai sekitar 1934, yang banyak berpengaruh pada perkembangan seni dari Republik Weimar dan di tempat lain, sebelum digantikan oleh Sosialis Realism. Motif yang ada di sporadis terulang sejak gerakan seni lainnya.

Istilah Konstruksi Seni pertama kali digunakan sebagai istilah oleh gelak Kazimir Malevich untuk menjelaskan karya Alexander Rodchenko di 1917. Constructivism pertama muncul sebagai sebuah istilah positif dalam Naum Gabo’s Realistic Manifesto dari 1920. Alexei Gan kata digunakan sebagai judul bukunya Constructivism, yang dicetak pada 1922. [1] Constructivism adalah pasca Perang Dunia I dari Rusia bonggol Futurism, dan terutama dari ‘sudut-counter relief’ dari Vladimir Tatlin, yang telah dipamerkan di 1915. Istilah itu sendiri akan digunakan oleh sculptors Antoine Pevsner dan Naum Gabo, yang mengembangkan industri, tajam pendekatan untuk pekerjaan mereka. Pengajaran dasar bagi gerakan baru yang diungkapkan oleh pemberian sandang pangan dari Enlightenment (atau Narkompros) oleh pelayanan pemerintah Bolshevik di bidang pendidikan dan budaya dipimpin oleh Anatoliy Vasilievich Lunacharsky dipamerkan pada Petrograd Academy of Fine Arts dan Moskow Sekolah Lukisan, Seni Patung dan Arsitektur di 1918. IZO, pemberian sandang pangan yang artistik dari biro telah berjalan selama Perang Saudara Rusia terutama oleh Futurists, yang diterbitkan di jurnal seni yang bersatu. Fokus untuk Constructivism di Moskow telah VKhUTEMAS, sekolah untuk seni dan desain yang didirikan pada tahun 1919. Gabo kemudian menyatakan bahwa mengajar di sekolah itu lebih terfokus pada diskusi politik dan ideologis dari seni-making. Walaupun demikian, dirinya Gabo dirancang radio pemancar di 1920 (dan akan mengajukan rancangan ke Istana yang Soviets kompetisi 1930).

Constructivism sebagai teori dan praktek sendiri berasal dari rangkaian perdebatan di INKhUK (Institut Kebudayaan Artistik) di Moskow, 1920-22. Setelah ketua deposing pertamanya, Wassily Kandinsky untuk ‘tasawuf’, Kelompok Kerja Pertama dari Constructivists (termasuk Liubov Popova, Alexander Vesnin, Rodchenko, Varvara Stepanova, dan theorists Alexei Gan, Boris Arvatov dan Osip BRIK) akan tiba di sebuah definisi dari Constructivism sebagai kombinasi dari faktura: bahan tertentu properti dari objek, dan tektonika, dengan kehadiran spasial. Pada awalnya Constructivists yang bekerja pada tiga dimensi konstruksi sebagai langkah pertama untuk partisipasi di industri: di OBMOKhU (Society of Young Seniman) pameran ini menunjukkan komposisi tiga dimensi, oleh Rodchenko, Stepanova, Karl Ioganson dan Stenberg Brothers. Definisi ini nantinya akan diperluas ke desain untuk dua dimensi karya seperti buku atau poster, dengan montage dan factography menjadi konsep penting.

Beberapa Contoh Gamba Constructivism :

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Bauhaus

April 7, 2009

Bauhaus

Bauhaus merupakan ekspresi Jerman berarti untuk membangun rumah. Pada tahun 1919, perekonomian di Jerman sedang dalam masa krisis.Setelah perang penumpasan. Arsitek Walter Gropius ditunjuk untuk kepala sebuah lembaga baru yang akan membantu membangun kembali negara dan membentuk ketertiban sosial baru.Bauhaus, yang dipanggil untuk Lembaga sosial baru untuk pekerja. Bauhaus menolak arsitek “borjuis” rincian seperti cornices, bagian atap, dan rincian dekoratif. Mereka ingin menggunakan prinsip-prinsip arsitektur klasik dalam bentuk paling murni tanpa hiasan apapun.

Bauhaus memiliki bangunan atap datar, halus facades, dan bentuk kubik. Adalah warna putih, abu-abu, krem, atau hitam. Lantai terbuka dan furnitur yang fungsional.

Bauhaus sekolah yang dibubarkan bila Nazis naik kekuasaan. Walter Gropius, Ludwig Mies van der Rohe, dan pemimpin Bauhaus lainnya bermigrasi ke Amerika Serikat. Istilah Gaya International telah diterapkan di bentuk arsitektur Bauhaus Amerika.

Constructivism merupakan gerakan yang aktif dari 1915 ke 1940-an. Ini adalah gerakan yang dibuat oleh Russian avant-garde, namun dengan cepat menyebar ke bagian benua. Constructivist seni berkomitmen untuk menyelesaikan abstraksi dengan ketaatan modernitas, di mana tema yang umum adalah geometris, eksperimental dan tidak emosional. Tujuan bentuk universal membawa makna yang jauh lebih sesuai dengan gerakan dari subjektif individualistis atau bentuk. Tema Constructivist juga sangat minim, di mana karya seni yang dirobohkan ke elemen yang paling dasar. Media baru yang sering digunakan dalam penciptaan karya, yang membantu menciptakan sebuah gaya seni yang tertib.Seni diinginkan pada saat itu karena hanya setelah Perang Dunia 1 timbul, yang mana menekankan Karya-karya kepada pengertian,persatuan dan perdamaian. Seniman terkenal dari gerakan Constructivist termasuk Vladimir Tatlin, Kasimir Malevich, Alexandra Exter, Robert Adams, dan El Lissitzky.

Beberapa Contoh Karya Bauhaus :

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Futurism

April 7, 2009

Futurisme

Futurisme dari bahasa Perancis, futur atau bahasa Inggris, future yang keduanya berarti “masa depan” adalah sebuah ilmu yang mempelajari masa depan. Selain itu aliran ini juga merupakan sebuah aliran seni yang avant-garde atau sebelum masanya, terutama pada tahun 1909. Aliran ini terutama paling kuat muncul di Italia, meskipun ada juga pengikut-pengikutnya di Britania Raya dan Rusia.

Futurisme
Filippo Tommaso Marinetti,seorang penyair dan penulis dari Italia pada Tahun 1909 memperkenalkan aliran futurisme.Ia mendapat inspirasi dari kehidupan yang berubah menjadi modern berkat teknologi mesin yang menghasilkan unsur gerak dan kecepatan yang memiliki pengaruh sangat besar bagi kehidupan manusia di awal abad ke 20.Sebenarnya,futurisme itu sendiri adalah sebuah gerakan seni murni Italia dan sebuah pergerakan kebudayaan pertama dalam abad ke-20 yang diperkenalkan secara langsung kepada masyarakat luas. Futurisme ini muncul dari situasi yang ditimbulkan akibat Perang Dunia I, dengan tujuan meninggalkan kenangan pahit, nostalgia, pesimistis, kemudian melepaskan materi-materi, elemen-elemen, dan nilai-nilai lama.Bermula dari konsep dalam pergerakan sastra, kemudian merasuk ke dalam bidang kesenian seperti: seni lukis, seni patung, seni musik, desain dan arsitektur.Aliran ini muncul dari situasi yang ditimbulkan akibat Perang Dunia I, dengan tujuan meninggalkan kenangan pahit, nostalgia, pesimistis, kemudian melepaskan materi-materi, elemen-elemen, dan nilai-nilai lama. Nilai-nilai dari kaum Futuris, dimaksudkan untuk mengiringi dan mengimbangi pergeseran kebudayaan, kekuatan dinamis pasar yang luas, era permesinan, dan komunikasi global yang menurut argumentasi mereka tengah merubah alam realitas dari kebudayaan dunia. Maka khayalan-khayalan kaum Futuris memakai pola-pola geometris untuk mewakili arah gerak dan makna dari pergerakan itu sendiri. Para seniman dan desainer Futurisme biasanya memanfaatkan hari-hari petang untuk berkumpul, menuliskan manifesto, puisi dan musik. Sifat agresif dan perilaku yang individualis dari kaum Futuris ini lambat laun dimanfaatkan untuk menyebarkan paham Fasisme. Salah seorang Futuris mempublikasikannya dalam surat kabar Perancis, “le Figaro” bertanggal 20 Pebruari 1909, dengan membuat pencampuran atau perpaduan yang tidak mudah di dalam memenuhi kepentingan nasionalisme Italia, kemiliteran dan kepercayaan baru terhadap mesin yang selanjutnya dijelmakan dalam produk mobil dan pesawat terbang. Sebelum Perang Dunia ke II, pergerakan para Futuris Italia yaitu mengantisipasi kemungkinan terjadinya kendala-kendala desain dalam kehidupan sehari-hari, melalui penyerapan dan penggambaran kualitas mekanisasi dan kecepatan, seperti yang telah dibahas oleh Banham dalam bukunya: “Theory and Design in The First Machine Age”. Era ini telah mengispirasikan pelukis Futuris, penyair dan arsitek, diantaranya: Filippo Tommaso Marinetti, Giacomo Balla, Gino Severini, Fornunato Depero, Carra, dan Antonio Sant’Elia untuk menciptakan sebuah karya yang mencerminkan dunia mereka. Itu semua merupakan semangat baru yang mereka junjung tinggi dalam sebuah kelompok yang membawanya kepada politik Fasis, ketika ketergantungan akan keterlibatan emosi dengan gaya hidup kemodernan dan kebaruan di lingkungan masyarakat. Falsafah yang dipakai oleh kaum Futuris hampir sebagian besar diambil dari latar belakang sejarah kemunculan Modernisme. Sebab kita mengetahui, bahwa Futurisme ini merupakan gerakan awal lahirnya Modernisme. Di samping itu, dengan terjadinya Revolusi Industri berpengaruh pula pada Futurisme ini. The Machine Aesthetics atau estetika mesin muncul mempengaruhi ciri-ciri penyusunan tipografi baik pada poster, sampul buku, dan aneka bentuk grafis lain.

Beberapa Contoh Karya Futurisme :

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

De Stijl

April 7, 2009

de Stijl atau dalam Bahasa Inggris the style adalah gerakan seni di sekitar tahun 1920an. Konsep ini berkembang seiring terjadinya perang dunia pertama yang berlarut-larut. Komunitas seni de Stijl kemudian berusaha memenuhi keinginan masyarakat dunia mengenai sistem keharmonisan baru di dalam seni.

Konsep ini diwujudkan dalam pemikiran utopia. Mereka mewujudkan abstraksi dan keuniversalan dengan mengurangi campur tangan bentuk dan kekayaan warna semaksimal mungkin. Komposisi visual disederhanakan menjadi hanya bidang dan garis dalam arah horisontal dan vertikal, dengan menggunakan warna-warna primer seperti merah, biru, dan kuning di samping bantuan warna hitam dan putih.

Dalam kebanyakan karya seni, garis vertikal dan horisontal tidak secara langsung bersilangan, tetapi saling melewati satu sama lain. Hal ini bisa dilihat dari lukisan Mondrian, Rietveld Schröder House, dan Red and blue chair.

Pengaruh dan perkembangan

Konsep de Stijl banyak dipengaruhi filosofi matematikawan M. H. J. Schoenmaekers. Piet Mondrian, kemudian mempublikasikan manifes seni mereka Neo-Plasticism pada tahun 1920, meskipun istilah ini sebenarnya sudah digunakan olehnya pada 1917 di Belanda dengan frase Nieuwe Beelding. Pelukis Theo van Doesburg kemudian mempublikasikan artikel De Stijl dari 1917 hingga 1928, menyebarkan teori-teori kelompok ini. Perupa de Stijl antara lain pematung George Vantongerloo, dan arsitek J.J.P. Oud dan Gerrit Rietveld.

Pada dasarnya aliran de Stijl hanya bergerak dalam dunia lukis. Sebab bagaimanapun konsep de Stijl adalah abstraksi secara ideal komposisi warna dalam bentuk dua dimensi, walaupun kemudian juga menghasilkan kesan ruang. Pemanfaatannya sangat banyak di dalam interior dan arsitekrur. namun seperti yang ditulis oleh Piet Mondrian bahwa de Stijl tetaplah sebuah konsep ideal dalam dua dimensi. Meskipun Theo van Doesburg berusaha keras memperjuangkan pengaplikasiannya dalam dunia arsitektur, de Stijl tetaplah hanya menjadi bahan pertimbangan dalam pengolahan bidang-bidang warna, bukan arsitekturnya sendiri.

de Stijl meredup seiring perpecahan di antara Theo van Doesburg yang aplikatif dan Piet Mondrian yang teoritis. Hingga akhirnya majalah de Stijl terakhir kali terbit untuk mengenang kematian Theo van Doesburg.

Seniman yang terlibat dalam gerakan de Stijl

Beberapa Karya De Stijl:

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

April 7, 2009

ART NOUVEAU

Art Nouveau, 1890-1914, menjelajah gaya baru dalam seni visual dan arsitektur yang dikembangkan di Eropa dan Amerika Utara pada akhir abad kesembilanbelas. Pameran ini dibagi menjadi tiga bagian: pertama berfokus pada 1900 World’s Fair di Paris, dimana Art Nouveau didirikan sebagai dekoratif gaya baru pertama abad kedua puluh, yang meneliti kedua sumber yang dipengaruhi gaya dan yang ketiga melihat perkembangannya dan hasil yg di kota-kota besar di Eropa dan Amerika Utara.

Dengan umur tepat seratus tahun yang lalu, Art Nouveau adalah upaya terpadu untuk menciptakan sebuah gaya internasional berdasarkan hiasan. Ia dikembangkan oleh generasi seniman dan desainer cemerlang dan energik, yang berusaha untuk mewujudkan sebuah bentuk seni yang modern sesuai dengan usia. Kebiasaan lama, dan seni di samping gaya baru, menggabungkan berbagai macam kontradiksi gambar dan ide. Banyak seniman, desainer, arsitek yang senang akan teknologi dan gaya hidup baru, sementara yang lain retreated ke masa lalu, merangkul roh dunia, fantasi, dan mitos.

Art Nouveau adalah dalam berbagai cara respon ke Revolusi Industri. Beberapa seniman menyambut kemajuan teknologi dan estetika embraced yang kemungkinan baru seperti bahan besi cor. Karya dan produk yang dihasilkan dari massa-mesin-barang yang dibuat dan bertujuan untuk meninggikan seni yang dekoratif dengan tingkat seni rupa oleh menerapkan standar tertinggi keahlian dan desain ke obyek sehari-hari. Art Nouveau desainer juga percaya bahwa semua kesenian harus bekerja dalam harmoni untuk menciptakan sebuah “total karya seni,” atau Gesamtkunstwerk: bangunan, furnitur, tekstil, pakaian, dan perhiasan semua sesuai denga prinsip-prinsip Art Nouveau.

Antoni Gaudi – Awal Mula Art Nouveau Spanyol

Antoni Gaudi lahir di Reus,Spanyol tahun 1852. Gaudi belajar arsitektur di Escola Superiord’Arquitectura yang terletak di Barcelona. Tema desainnya berusaha untuk keluar dari konsep dan tradisi desain arsitektur klasik,hal ini ditunjukkan dengan keberanian Gaudi dalam memainkan bentuk dan detail arsitektural dari setiap karyanya.

Desain Gaudi mencerminkan kualitas keberagaman, sangat ekspresif dan memiliki cita rasa unik, serta keunggulan struktur. Hasil dari setiap detail desainnya membuat Gaudi sebagai inovator bagi pergerakan gaya Art Nouveau Spanyol.

Salah satu karyanya yang menjadi fenomena dan masterpiece adalah Sagrada Familia Church (1882), bangunan yang memiliki gaya arsitektur Art Nouveau ini mempunyai detail yang unik, dan juga banyak mengandung arsitektur simbolisme, seperti dua menara tertingginya (125 meter) dipersembahkan untuk Yesus Kristus dan Bunda Maria, menara lonceng sebanyak 12 buah melambangkan 12 para Rasul, dan 4 menara untuk para pengarang Injil.

Gaudi meninggal pada tahun 1926 di Barcelona.

Art Nouveau telah hadir sendiri dan dari tahun 1880-an ke 1910s. Gerakan ini berjalan di bawah bendera sebuah seni yang akan merusak semua koneksi ke klasik kali dan mendapat hambatan antara seni rupa dan seni diterapkan. Art Nouveau lebih dari hanya gaya. Ia adalah cara berpikir tentang masyarakat modern dan metode produksi baru. Ia mencoba untuk redefine arti dan sifat karya seni. Dari pada waktu itu, itu adalah tugas seni tidak menghadap ke apapun obyek sehari-hari, tidak peduli bagaimana fungsinya. Pendekatan ini dianggap baru dan revolusioner, sehingga Baru Art – Art Nouveau nama.

Seorang seniman harus bekerja pada semua dari arsitektur untuk desain furnitur sehingga seni akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan membuat keindahan dan harmoni merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, artis membuat kehidupan masyarakat lebih baik. Pendekatan ini telah digambarkan dalam lukisan, arsitektur, furniture, barang pecah belah, desain grafis, perhiasan, tembikar, Logam, dan tekstil dan patung. Iklan poster yang selalu menjadi seni, dan telah dinyatakan pagar yang cocok untuk tempat pameran seni baru ini. Ini adalah kontras yang tajam ke pemisahan seni tradisional ke dalam kategori yang berbeda dari seni rupa (lukisan dan patung) dan seni diterapkan (keramik, mebel, dan lainnya praktis objek).

Pada umumnya, pola hias yang digunakan dalam semua bentuk seni Art Nouveau mendapat julukan gaya alur di Perancis, ‘Le gaya nouilles’. Standar visual dari gaya Art Nouveau adalah flat, pola hias, intertwined organik berasal atau bentuk bunga. Art Nouveau handcrafting ditekankan dibandingkan dengan mesin produksi, penggunaan bahan-bahan baru. Meskipun curving Art Nouveau baris karakter, kanan-angled juga bentuk khas, terutama sebagai gaya yang dilakukan di Skotlandia dan di Austria. Khas untuk style ini adalah seni aplikasi teknik industri yang modern dan modern material (tabir besi di arsitektur misalnya). Mata pelajaran pokok yang mewah dan bunga burung, serangga dan polyformic femme fatale. Abstrak garis dan bentuk yang digunakan secara luas sebagai untuk mengisi isi dikenali. Penghapusan arti dari tiga dimensi yang sering diterapkan melalui shading dikurangi. Art Nouveau seni yang indah,benda seni, tetapi belum tentu sangat fungsional.

Art Nouveau berkembang di sejumlah negara-negara Eropa, banyak yang dikembangkan sendiri nama untuk gaya ini. Art Nouveau di Perancis dikenal sebagai gaya Guimard, setelah Prancis desainer Hector Guimard; di Italia sebagai stile Floreale (bunga gaya); stile Liberty, setelah British Art Nouveau desainer Arthur Lasenby Liberty; di Spanyol sebagai Modernisme; di Austria sebagai Sezessionstil (Wina diri), dan di Jerman sebagai Jugendstil.

Art Nouveau telah its deepest berpengaruh pada berbagai gerakan seni dan desain yang terus mencari desain terpadu, termasuk De Stijl, sebuah gerakan desain Belanda di tahun 1920, dan Jerman Bauhaus sekolah di tahun 1920 dan 1930an.

beberapa contoh gambar art Nouveau:

Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

April 7, 2009

Art Deco

Lingkaran spiral Art Deco di Gedung Chrysler di New York, dibangun pada 1928–1930.

Art Deco adalah sebuah gerakan desain yang populer dari 1920 hingga 1939, yang mempengaruhi seni dekoratif seperti arsitektur, desain interior, dan desain industri, maupun seni visual seperti misalnya fesyen, lukisan, seni grafis, dan film. Gerakan ini, dalam pengertian tertentu, adalah gabungan dari berbagai gaya dan gerakan pada awal abad ke-20, termasuk Konstruksionisme, Kubisme, Modernisme, Bauhaus, Art Nouveau, dan Futurisme. Popularitasnya memuncak pada 1920-an. Meskipun banyak gerakan desain mempunyai akar atau maksud politik atau filsafati, Art Deco murni bersifat dekoratif. Pada masa itu, gaya ini dianggap anggun, fungsional, dan ultra modern.

Sejarah

Setelah Eksposisi Dunia 1900, berbagai seniman Perancis membentuk sebuah kolektif resmi, La Société des artistes décorateurs. Para pendirinya antara lain adalah Hector Guimard, Eugène Grasset, Raoul Lachenal, Paul Follot, Maurice Dufrene dan Emile Decour. Para seniman ini sangat mempengaruhi prinsip-prinsip Art Deco pada umumnya. Maksud perhimpunan ini adalah memperlihatkan tempat terkemuka dan evolusi seni dekoratif Perancis secara internasional. Wajarlah bila mereka mengorganisir Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes (Eksposisi Internasional untuk Seni Industri dan Dekoratif Modern) pada 1925, yang menampilkan seni dan kepentingan bisnis Perancis.

Gerakan awal ini disebut Style Moderne. Istilah Art Deco diambil dari Eksposisi 1925, meskipun baru pada 1960-an istilah ini diciptakan, ketika terjadi kebangkitan kembali Art Deco.

Sumber-sumber dan Atribut-atribut

Walter Dorwin Teague‘s “Beau Brownie” camera for Eastman Kodak.

secara umum dianggap sebagai suatu bentuk eklektik dari keanggunan dan gaya modernisme, yang dipengaruhi berbagai sumber. Diantaranya adalah seni tradisional Afrika, Mesir, atau Aztek Meksiko, dan juga Abad Mesin atau teknologi Streamline seperti penerbangan modern, Penerangan listrik, radio, dan bangunan pencakar langit. Pengaruh desain ini terlihat pada fractionated, crystalline, bentuk facet dari dekorasi Kubisme dan Futurism, dalam wadah Fauvisme. Tema populer lain dalam Art Deco adalah bentuk-bentuk bersifat trapezoid, zigzag, geometri, dan bentuk puzzle, yang banyak terlihat pada karya mula-mula. Sejalan dengan pengaruh-pengaruh ini,Art Deco dikarakterkan dengan penggunaan bahan-bahan seperti aluminum, stainless steel,lacquer , inlaid wood, kulit hiu (shagreen), dan kulit zebra. Penggunaan berani dari bentuk bertingkat, sapuan kurva (unlike the sinuous, natural curves of the Art Nouveau), pola-pola chevron , dan motif pancaran matahari adalah tipikal dari Art Deco. Beberapa dari motif ini sering muncul pada saat ini— contohnya, motif pancaran matahari dalam berbagai konteks seperti sepatu wanita, radiator grilles, auditorium dari Radio City Music Hall, dan puncak dari Gedung Chrysler.

Arsitektur Art Deco

October 14th, 2004

Oleh Tanti Johana

Jika Prof. Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker dan Albert Frederik Aalbers tidak menginjakkan kakinya di Indonesia, mungkin kita tidak akan mengenal arsitektur Art Deco. Art Deco merupakan salah satu langgam yang sangat luas penerapannya, berbagai macam contoh dapat kita jumpai, dalam arsitektur, pakaian, poster dan peralatan rumah tangga serta masih banyak lagi contoh lain. Mekipun tersedia beragam benda yang memakai langgam Art Deco, namun tidaklah mudah mendefiniskan bagaimana langgam Art Deco tersebut.

Karena banyaknya negara yang menerapkan langgam ini membuat Art Deco berkembang dengan pesat, hal ini tidak memudahkan pendefinisian langgam yang bangkit populer kembali pada tahun 60-an. Setiap negara yang menerima langgam Art Deco mengembangkannya sendiri, memberikan sentuhan lokal sehingga Art Deco di suatu tempat akan berbeda dengan Art Deco di tempat lain. Tetapi secara umum mereka mempunyai semangat yang sama yaitu menggunakan ornamen-ornamen tradisional atau historikal, sehingga langgam Art Deco merupakan langgam yang punya muatan lokal.

Meskipun pada awalnya Art Deco merupakan gaya yang mengutamakan hiasan-hiasan tradisional setempat, tetapi ia terbuka terhadap sesuatu yang baru, keterbukaan ini tercermin dalam pemakaian material yang baru dan dengan teknik yang baru, tak jarang pula mereka melakukan penggabungan material, sehingga hasil karya mereka hampir selalu inovatif dan eksperimentatif.

Perkembangan Art Deco tidak lepas dari pengaruh situasi dan kondisi jamannya, pada saat itu di Eropa sedang berlangsung revolusi industri, masyarakat terpesona oleh adanya penemuan-penemuan dan teknologi yang maju dengan pesat. Karakter-karakter teknologi yang menggambarkan kecepatan diejawantahkan ke dalam desain dalam bentuk garis-garis lengkung dan zig-zag.

Arsitektur Art Deco Arsitektur Art Deco selain menerima ornamen-ornamen historis, langgam ini juga menerima pengaruh aliran arsitektur yang sedang berkembang saat itu. Gerakan arsitektur modern yang sedang berkembang pada saat itu bauhaus, De Stijl, Dutch Expressionism, International Style, Rationalism, Scandinavian Romanticism dan Neoclassicism, Arts and Crafts Movement, Art Nouveau, Jugendstil dan Viennese Secession. Mereka ikut mempengaruhi bentukan-bentukan arsitektur Art Deco serta memberikan sentuhan-sentuhan modern. Modern pada saat itu diartikan dengan “berani tampil beda dan baru, tampil lebih menarik dari yang lain dan tidak kuno” kesemuanya itu dimanifestasikan dengan pemilihan warna yang mencolok, proporsi yang tidak biasa, material yang baru dan dekorasi.

Menentukan Gaya Suatu Bangunan Menentukan gaya sebuah bangunan tidaklah mudah, kita tidak bisa hanya berpedoman pada tahun berdirinya bangunan, lantas kita akan tahu gaya bangunan tersebut. Art Deco mengalami kejayaan pada tahun 1920-1930 tapi bukanlah jaminan apabila bangunan yang dirancang pada tahun 1920-1930 lantas bisa dinamai arsitektur Art Deco, bangunan yang berbentuk kubus menggunakan struktur beton dan tanpa dekorasi sering diklasifikasikan sebagai arsitektur Art Deco karena bentuknya yang geometris, tetapi karena tidak ada dekorasi sama sekali, maka bangunan itu lebih layak untuk tidak digolongkan sebagai arsitektur Art Deco, setidaknya dalam pandangan para purist.

Seni Art Deco termasuk dalam seni terapan, pada arsitektur langgam ini tidak menyuguhkan sesuatu sistem atau solusi yang baru, langgam Art Deco berbicara tentang permukaan dan bentuk. Arsitektur Art Deco merupakan arsitektur ornamen, geometri, energi, retrospeksi, optimisme, warna, tekstur, cahaya dan simbolisme.

Asal Mula Kata Art Deco Kata Art Deco termasuk terminologi yang baru pada saat itu, diperkenalkan pertama kali pada tahun 1966 dalam sebuah katalog yang diterbitkan oleh Musée des Arts Decoratifs di Paris yang pada saat itu sedang mengadakan pameran dengan tema “Les Années 25”. Pameran itu bertujuan meninjau kembali pameran internasional “l’Expositioan Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes” yang diselenggarakan pada tahun 1925 di Paris. Sejak saat itu nama Art Deco dipakai untuk menamai seni yang saat itu sedang populer dan modern. Munculnya terminologi itu pada beberapa artikel semakin membuat nama Art Deco eksis. Art Deco semakin mendapat tempat dalam dunia seni dengan dipublikasikannya buku “Art Deco” karangan Bevis Hillier di Amerika pada tahun 1969.

Art Deco di Indonesia Pengaruh Art Deco di Indonesia dibawa oleh arsitek-arsitek Belanda, salah satu diantara mereka adalah C.P. Wolff Schoemaker dan A.F. Aalbers. Hotel Preanger Bandung rancangan Schoemaker merupakan arsitektur berlanggam Art Deco dengan ciri khasnya elemen dekoratif geometris pada dinding eksteriornya. Selanjutnya perkembangan arsitektur Art Deco di Indonesia tampil lebih sederhana, mereka lebih mengutamakan pola garis-garis lengkung dan bentuk silinder, contoh konkret dari konsep ini adalah Vila Isola Bandung (sekarang gedung IKIP), juga rancangan Schoemaker. Kesederhanaan bentuk belumlah mewakili semua konsep arsitektur Art Deco ini karena kedinamisan ruang interior dapat dilihat dalam lay out bangunannya.

Arsitektur memang menggambarkan kehidupan jaman itu. Pengaruh aliran De Stijl dari Belanda yang menyuguhkan konsep arsitektural “kembali ke bentuk yang sederhana” dan pengkomposisian bentuk-bentuk sederhana menghasilkan pencahayaan dan bayangan yang menarik Aliran ini pula yang banyak mempengaruhi penganut arsitektur Art Deco di Indonesia

Perkembangan Art Deco akhir di Indonesia mengacu pada kedinamisan dan bentuk plastis yang kelenturan fasadenya merupakan pengejawantahan dari kemoderenan teknologi arsitektural. Contoh fasade yang dinamis salah satunya adalah fasade hotel Savoy Homann Bandung yang dirancang oleh A.F. Aalbers.

Lengkungan yang ditampilkan itu merupakan ekspresi gerak, teknologi modern dan rasa optimisme. Orang-orang sering menjuluki lengkungan itu dengan “Ocean Liner Style” hal ini mengacu pada bentuk kapal pesiar yang pada saat itu merupakan karya manusia yang patut dibanggakan, jadi bentukan kapal, bentuk lengkung dijadikan sebagai ekspresi kemoderenan.

Di Indonesia tentunya banyak bangunan berlanggam Art Deco yang masih harus dicari dan diteliti. Arsitektur ini merupakan salah kekayaan Arsitektur Indonesia.

Beberapa Gambar Art Deco:


Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket
Photobucket

Charlie Chaplin

April 6, 2009

Charlie Chaplin

Photobucket

Charles Chaplin

Lahir


16 April 1889
Walworth, London, Inggris

Meninggal

25 Desember 1977
Vevey, Swiss

Pasangan

Mildred Harris (1918-1920)
Lita Grey (1924-1928)
Paulette Goddard (1936-1942)
Oona Chaplin (1943-1977)

Sir Charles Spencer Chaplin, Jr. KBE (lahir di East Street, Walworth, London, 16 April 1889 – wafat di Vevey, Swiss, Swiss, 25 Desember 1977 pada umur 88 tahun), atau Charlie Chaplin, adalah aktor komedi Inggris yang merupakan salah satu pemeran film terkenal dalam sejarah Hollywood di era film hitam putih, sekaligus sutradara film yang sukses. Aktingnya di layar perak menjadikan Charlie Chaplin sebagai salah satu artis pantomim dan badut terbaik yang sering dijadikan panutan bagi seniman di bidang yang sama.

Chaplin adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dan paling kreatif di era film bisu. Di dalam film-filmnya, Chaplin dikenal suka merangkap-rangkap, mulai dari peran utama, sutradara, penulis naskah, hingga pengisi ilustrasi musik. Karir di dunia hiburan berlangsung selama 65 tahun, dirintisnya sebagai pemeran cilik di panggung zaman Victoria dan pertunjukan komedi music hall di Inggris, dan terus berkarya hingga sebelum meninggal di usia 88 tahun. Kehidupan Chaplin penuh pasang surut, mulai dari masa kecil yang dibalut kemiskinan, hingga tiba di puncak ketenaran bintang Hollywood sekaligus simbol budaya. Kehidupan pribadinya yang gemerlap mengundang banyak sanjungan sekaligus kontroversi.

Di dalam film-filmnya, Chaplin sering memerankan karakter “The Tramp“, seorang gelandangan berpotongan kumis petak yang memiliki etiket dan martabat seorang bangsawan. Kostum berupa jas kesempitan, celana panjang yang kebesaran, serta ke mana-mana membawa tongkat dan memakai topi tinggi.

Masa kecil

Charlie Chaplin lahir tanggal 16 April 1889 di East Street, daerah pasar yang ramai di Walworth, sebelah selatan kota London. Kedua orang tuanya yang bekerja sebagai artis penghibur pertunjukan komedi music hall bercerai sebelum Chaplin menginjak usia 3 tahun.

Menurut data sensus tahun 1891, Chaplin tinggal bersama kakak dan ibunya yang bernama Hannah di Barlow Street, Walworth. Sewaktu masih kanak-kanak, ibunya mengajak Chaplin tinggal berpindah-pindah di sekitar Kennington Road, kawasan Lambeth, London.

Ayah kandungnya yang bernama Charles Chaplin Senior adalah keturunan orang Roma, seorang peminum dan hanya sekali-kali saja menghubungi putranya. Ketika ibunya sedang sakit, Chaplin sempat dititipkan di rumah sang ayah yang ketika itu tinggal bersama seorang wanita simpanan. Rumah tersebut ada di 287 Kennington Road, dan sekarang terdapat plakat peringatan yang menyatakan Charlie Chaplin pernah tinggal di sana.

Ketika masih berusia 12 tahun, Chaplin ditinggalkan sang ayah untuk selama-lamanya. Chaplin dan kakak sekandung lain bapak yang bernama Sydney Chaplin menjadi tanggung jawab sang ibu, Hannah Chaplin. Malang tidak bisa ditolak, ibu Chaplin menderita Skizofrenia dan akhirnya harus dirawat di rumah sakit jiwa Cane Hill di Coulsdon.

Chaplin terpaksa tinggal di rumah penampungan orang miskin, bekerja untuk imbalan makan dan tempat berteduh di kawasan Lambeth, London. Setelah tinggal di sana beberapa minggu, Chaplin dimasukkan sekolah asrama penampungan anak terlantar bernama Central London District School di Hanwell.

Kakak-beradik Chaplin berjuang bahu-membahu agar bisa bertahan hidup. Chaplin bersaudara tertarik tampil dalam pertunjukan komedi Music Hall di usia yang sangat dini, dan ternyata keduanya memiliki bakat akting alami. Masa kecil Chaplin yang dikungkung kemelaratan nantinya sangat berpengaruh terhadap karakter yang diperankan dan tema film yang dibuatnya.

Tanpa diketahui Chaplin bersaudara, sang ibu ternyata masih memiliki seorang putra bernama Wheeler Dryden yang dibesarkan ayah kandungnya di luar negeri. Wheeler Dryden, adik sekandung Chaplin ini nantinya bergabung dengan Chaplin bersaudara, dan bekerja untuk studio Chaplin di Hollywood.

Di tahun 1928, ibu Chaplin wafat di Hollywood, setelah 7 tahun tinggal di Amerika Serikat atas ajakan ketiga putranya yang sudah sukses.

Dunia panggung

Chaplin pertama kali naik panggung di tahun 1894 sewaktu masih berusia 5 tahun. Tanpa persiapan sebelumnya, di sebuah teater di Aldershot, Chaplin secara mendadak diminta menggantikan ibunya. Sewaktu masih kecil, Chaplin sakit keras dan harus berbaring di tempat tidur selama berminggu-minggu. Di malam hari, ibunya duduk di bingkai jendela, bercerita sambil mendramatisasi kejadian pada hari itu. Chaplin pertama kali naik panggung dengan mendapatkan bayaran setelah bergabung dengan kelompok penari The Eight Lancashire Lads yang mementaskan pertunjukan music halls di Britania. Di tahun 1900, berkat bantuan Sydney (kakak sekandungnya), Chaplin yang waktu itu berusia 11 tahun mendapat peran sebagai kucing jenaka dalam pantomim Cinderella di London Hippodrome. Di tahun 1903, Chaplin tampil dalam Jim: A Romance of Cockayne, diikuti peran rutinnya sebagai Billy anak pengantar koran dalam Sherlock Holmes yang terus dijalani hingga tahun 1906. Chaplin tampil berikutnya dalam acara variety Casey’s Court Circus, dan tahun berikutnya sebagai badut dalam kelompok komedi slapstik Fun Factory di bawah asuhan Fred Karno.

Pertunjukan di Amerika

Chaplin pertama kali ke Amerika mengikuti pertunjukan keliling kelompok asuhan Fred Karno dari tahun 1910 hingga 1912. Setelah balik ke Inggris dan berada di sana selama 5 bulan, Chaplin kembali berangkat ke Amerika dan tiba di sana tanggal 2 Oktober 1912. Kedatangan Chaplin yang kedua di Amerika juga masih bersama kelompok Fred Karno. Arthur Stanley Jefferson yang kemudian dikenal sebagai Stan Laurel turut serta dalam rombongan dan menjadi teman sekamar Chaplin di asrama. Laurel akhirnya pulang ke Inggris, tapi Chaplin tetap bertahan di Amerika. Di akhir tahun 1913, produser film Mack Sennett terkesan dengan akting Chaplin yang waktu itu sedang bermain untuk rombongan Karno. Sennet mengontrak Chaplin yang setuju untuk bermain dalam film-film yang diproduksi studio Keystone Film. Film pendek Making a Living, komedi satu reel yang dirilis 2 Februari 1914 merupakan penampilan pertama Chaplin di layar perak.

Perintis dunia sinema

Film-film awal Chaplin diproduksi pada tahun 1914 di Keystone Studios yang merupakan tempat Chaplin belajar teknik pembuatan film, sekaligus mengembangkan karakter Tramp. Chaplin pertama kali memperkenalkan karakter Tramp kepada publik melalui film keduanya, Kid Auto Races at Venice (diedarkan 7 Februari 1914) dan film ketiganya Mabel’s Strange Predicament (9 Januari 1914).

Di akhir kontrak dengan Keystone, Chaplin sudah bisa menyutradarai dan menyunting sendiri film-film pendek yang dibuatnya. Film-film tersebut ternyata sukses besar. Di tahun 1915, Chaplin menyetujui kontrak satu tahun dengan studio Essanay. Setelah itu, kontrak bernilai besar untuk selusin film komedi tipe dua reel disepakati Chaplin dengan studio Mutual Film di tahun 1916. Studio memberinya kebebasan artistik yang nyaris tanpa batas. Dalam dalam jangka waktu 18 bulan, Chaplin berhasil menyelesaikan 12 judul film. Film-film ini nantinya berhasil menjadi film komedi klasik dan tetap masih bisa menghibur hingga sekarang. Di kemudian hari, Chaplin mengenang masa bersama studio Mutual sebagai periode paling membahagiakan dalam karirnya.

Setelah kontrak dengan studio Mutual habis di tahun 1917, Chaplin menandatangani kontrak produksi 8 film tipe dua reel dengan studio First National. Selain pembiayaan dan distribusi film-film (1918-1923) yang ditanggung studio First National, kebebasan artistik seluruhnya berada di tangan Chaplin. Dengan kebebasan berkreasi ada di tangan, Chaplin membangun studio Hollywood sendiri. Pada periode ini tercipta film-film Chaplin yang tak lekang dimakan waktu, dan masih bisa dijadikan panutan bagi pembuat film yang lain. Film-film yang diproduksi Chaplin bersama First National berupa film komedi dengan masa putar singkat, misalnya: A Dog’s Life (1918) dan Pay Day (1922), ditambah film dengan masa putar lebih panjang, misalnya: Shoulder Arms (1918), dan The Pilgrim (1923). Film Chaplin asal periode ini dengan masa putar standar dan berhasil menjadi klasik adalah The Kid (1921).

Di tahun 1919, Chaplin mendirikan distributor film United Artists bersama-sama Mary Pickford, Douglas Fairbanks, dan D. W. Griffith. Mereka berempat berusaha melepaskan diri dari sistem monopoli yang dipegang distributor film dan pemilik modal di Hollywood. Usaha ini berhasil, dan kemandirian Chaplin sebagai pembuat film tetap terjamin berkat adanya kendali penuh atas film yang diproduksi di studio milik sendiri. Nama Chaplin terus tercatat sebagai anggota dewan direktur UA hingga di awal tahun 1950-an.

Seluruh film Chaplin yang diedarkan United Artists bermasa putar standar, dimulai dari A Woman of Paris (1923), diikuti film The Gold Rush (1925) yang nantinya menjadi klasik, dan diakhiri dengan The Circus (1928).

Film-film bisu yang hingga sekarang dianggap sebagai karya terbesarnya, City Lights (1931) dan Modern Times (1936) justru dibuat Chaplin ketika dunia sinema sudah mengenal film bersuara. Di kedua film tersebut, Chaplin mengerjakan sendiri efek suara dan ilustrasi musik. Film City Lights mungkin berisi keseimbangan sempurna antara komedi dan sentimentalitas ala Chaplin. Adegan terakhir film City Lights dipuji kritikus James Agee yang berkomentar di majalah Life tahun 1949 sebagai: “sepotong akting paling hebat yang pernah direkam seluloid”.

Film bersuara karya Chaplin yang dibuat di Hollywood adalah: The Great Dictator (1940), Monsieur Verdoux (1947), dan Limelight (1952).

Film “Modern Times” (1936), Chaplin sedang makan dilayani mesin.

Walaupun pembuat film lain sudah beralih pada film bersuara, Chaplin bertahan untuk tidak ikut-ikutan. Film bersuara sudah dikenal sejak tahun 1927, tapi Chaplin terus bertahan dengan film-film bisu selama dekade 1930-an. Film Modern Times (1936) adalah film bisu, tapi memperdengarkan dialog yang keluar dari benda-benda mati, seperti radio atau pesawat televisi. Chaplin memang sengaja membuatnya seperti itu untuk membantu penonton film di tahun 1930-an yang tidak lagi terbiasa melihat film bisu. Film Modern Times sekaligus film pertama yang memperdengarkan suara Chaplin (pada lagu yang dipasang di akhir film). Walaupun demikian, film ini masih dianggap film bisu oleh sebagian penonton, sekaligus akhir dari era film bisu karya Chaplin.

Chaplin dikenal sebagai artis serba bisa, koreografi film Limelight (1952) dikerjakannya sendiri, begitu pula lagu latar film The Circus (1928). Lagu berjudul “Smile” merupakan ciptaan Chaplin yang paling terkenal di antara semua lagu yang pernah ditulisnya. Ditulis untuk film “Modern Times”, lagu “Smile” diberi tambahan lirik untuk dinyanyikan Nat King Cole sewaktu ingin diedarkan kembali di tahun 1950-an. Lagu “This Is My Song” dari film terakhir Chaplin, “A Countess From Hong Kong” berhasil menjadi hit dalam berbagai bahasa di tahun 1960-an (terutama versi Petula Clark). Film Limelight berisi lagu tema berjudul “Eternally” yang berhasil menjadi hit di tahun 1950-an.

Ilustrasi musik untuk film Limelight yang dikerjakan Chaplin mendapat nominasi Academy Awards di tahun 1972. Hal ini dimungkinkan karena pertunjukan perdana di Los Angeles tertunda selama dua dekade.

Academy Awards

Chaplin memenangkan 2 penghargaan kehormatan Academy Awards. Waktu itu belum ada prosedur audit pemungutan suara, dan penghargaan Oscar yang pertama dibagi-bagikan pada 16 Mei 1929 berdasarkan pembagian kategori yang sangat luwes. Chaplin mulanya dinominasikan sebagai Aktor Terbaik dan Sutradara Komedi Terbaik untuk karyanya The Circus, tapi namanya ditarik kembali dan dewan Academy justru memutuskan untuk memberi penghargaan istimewa untuk “kegeniusan, kemampuan serba bisa dalam akting, penulisan, penyutradaraan, dan produksi film The Circus“. Film lain yang menerima penghargaan istimewa pada tahun itu adalah The Jazz Singer.

Penghargaan kehormatan yang kedua dari Academy diterima Chaplin 44 tahun kemudian di tahun 1972. Chaplin menerima penghargaan atas “pengaruh tak terhingga yang dibuatnya dan menjadikan film sebagai bentuk seni abad ini”. Chaplin keluar dari pengasingannya untuk menerima penghargaan ini. Setelah Chaplin menerima penghargaan, para hadirin berdiri memberikan sambutan tepuk tangan selama 5 menit penuh yang hingga sekarang tercatat sebagai standing ovation terlama sepanjang sejarah Academy Award.

Chaplin juga pernah masuk nominasi sebagai penerima penghargaan Academy untuk Aktor Terbaik, Skenario Asli Terbaik, dan Film Terbaik untuk karyanya The Great Dictator, tapi gagal. Film Monsieur Verdoux (1947) juga pernah dicalonkan sebagai Skenario Asli Terbaik, namun lagi-lagi gagal meraih penghargaan. Sewaktu masih aktif sebagai pembuat film, Chaplin pernah menyatakan ketidakpuasannya pada Academy Awards. Putranya yang bernama Charles Jr. bercerita tentang tindakan Chaplin menjadikan penghargaan Oscar yang diterimanya di tahun 1929 sebagai pengganjal pintu yang menjadi sebab kemarahan dewan Academy di tahun 1930-an. Hal ini mungkin menjadi alasan film City Lights sama sekali tidak pernah masuk nominasi, padahal berbagai hasil jajak pendapat sepakat film ini sebagai salah satu film terbesar dalam sejarah layar perak.

Di usia lanjut, Chaplin pernah memperoleh Academy Award yang didapatnya dari hasil kompetisi dan bukan secara kehormatan. Di tahun 1973, film Limelight (1952) mendapat penghargaan Oscar untuk Academy Award untuk Ilustrasi Musik Asli (Best Music in an Original Dramatic Score). Chaplin membintangi film ini bersama Claire Bloom, serta tampil secara cameo bersama Buster Keaton yang merupakan satu-satunya penampilan kedua komedian terbesar dalam satu film. Setelah film selesai diproduksi, kecenderungan politik yang dianut Chaplin menyebabkan film Limelight tidak jadi diputar di Los Angeles. Pemutaran di Amerika Serikat baru berlangsung di tahun 1972, sehingga film ini walaupun diproduksi tahun 1952 berhak masuk nominasi.

Karya terakhir

Dua film terakhir Chaplin dibuat di London: A King in New York (1957) yang dibintanginya sendiri (sekaligus penulis skenario dan sutradara), dan A Countess from Hong Kong (1967) dengan bintang Sophia Loren dan Marlon Brando. Film A Countess from Hong Kong merupakan penampilan Chaplin yang terakhir, tampil singkat secara cameo sebagai awak kapal yang sedang mabuk laut.

Dalam otobiografi berjudul My Life in Pictures terbitan tahun 1974, Chaplin menuturkan bahwa dirinya sudah menulis skenario untuk dibintangi Victoria, putri terkecilnya. Kalau skenario yang diberinya judul The Freak jadi diproduksi, Victoria akan diberi peran sebagai bidadari. Menurut Chaplin, skenario film ini sudah selesai dan latihan praproduksi sudah dimulai (buku ini memuat foto Victoria lengkap dengan kostumnya), tapi produksi dihentikan karena Victoria menikah. Chaplin menambahkan, “Kapan-kapan, pasti aku buat.” Kesehatan Chaplin terus menurun di tahun 1970-an, dan meninggal sebelum angan-angannya terwujud.

Salah satu karya yang diketahui sebagai karya terakhir Chaplin adalah ilustrasi musik yang ditulisnya untuk memperbarui A Woman of Paris, karyanya yang kurang sukses di tahun 1923.

Dikelilingi wanita

Chaplin dikelilingi banyak wanita yang berpengaruh penting dalam hidup dan karirnya.

Charlie Chaplin dan Paulette Goddard dalam film Modern Times (1936). Penampilan terakhir di layar perak bagi karakter Tramp.

Hetty Kelly

Cinta pertama Chaplin adalah pada Hetty, penari yang ditemuinya di London ketika Hetty masih berusia 15 tahun dan Chaplin 19 tahun. Chaplin tergila-gila dan melamarnya, tapi ditolak. Chaplin memutuskan keduanya untuk tidak saling berjumpa lagi, walaupun keputusan ini membuat hatinya hancur. Hetty tewas menjadi korban epidemi influenza tahun 1918.

Edna Purviance

Chaplin dan aktris lawan main tetapnya, Edna Purviance terlibat hubungan asmara sewaktu memproduksi film-film di studio Essanay dan Mutual dari tahun 1916 hingga 1917. Hubungan mereka tampaknya putus di tahun 1918, dan keduanya tidak mungkin rujuk sebab Chaplin menikah dengan Mildred Harris di akhir tahun yang sama. Edna terus berperan sebagai peran utama wanita di film-film Chaplin sampai tahun 1923, dan terus menerima gaji dari Chaplin hingga wafat tahun 1958.

Mildred Harris

Mildred yang berusia 16 tahun menikah dengan Chaplin yang sudah berusia 29 tahun pada 23 Oktober 1918. Pernikahan ini akibat Mildred yang masih di bawah umur mengira dirinya sudah hamil. Di antara keduanya lahir Norman Spencer Chaplin (dikenal sebagai “The Little Mouse”) yang meninggal sewaktu masih kecil. Chaplin dan Mildred bercerai tahun 1920.

Pola Negri

Dari tahun 1922–1923, Chaplin terlibat hubungan dengan aktris Pola Negri yang baru datang dari Polandia untuk memulai karir di Hollywood. Hubungan mereka berdua sangat unik, dan tidak seperti biasanya Chaplin mau terang-terangan membeberkan hubungannya dengan wanita di muka publik. Penulis biografi Chaplin sebagian berpendapat hubungan Chaplin dan Pola adalah semata-mata untuk publisitas.

Lita Grey

Di usia 35, Chaplin berhubungan dengan Lita Grey yang berusia 16 tahun sewaktu persiapan film The Gold Rush. Setelah Lita hamil, mereka menikah tanggal 26 November 1924. Perkawinan menghasilkan 2 anak, aktor Charles Chaplin Jr. (1925–1968) dan Sydney Earle Chaplin (1926–). Perkawinan ini menjadi bencana karena keduanya tidak saling cocok. Chaplin dan Lita bercerai tahun 1928, dan menerima uang tunjangan perceraian yang jumlahnya memecahkan rekor pada saat itu. Chaplin harus membayar 825.000 dolar AS kepada bekas istrinya, ditambah 1 juta dolar AS untuk mengurus perkara ini. Perceraian ini begitu sensasional hingga membuatnya stres, dan diduga sebagai penyebab memutihnya rambut Chaplin. Penulis biografi Chaplin, Joyce Milton menulis dalam buku Tramp: The Life of Charlie Chaplin bahwa pernikahan Chaplin-Grey merupakan inspirasi novel Lolita karya Vladimir Nabokov di tahun 1950-an.

May Reeves

May mulanya diterima bekerja sebagai sekretaris pribadi untuk menemani Chaplin dalam perjalanan panjang ke Eropa (1931-1932). Tugas May nantinya membacakan surat-surat pribadi yang ditujukan kepada Chaplin, tapi baru sepagian bekerja, May dipertemukan dengan Chaplin yang langsung jatuh cinta. Keduanya menjadi sangat lengket hingga Syd kakak Chaplin jadi sebal. Setelah Syd ikut terlibat asmara May, hubungan cinta segitiga ini berakhir dan May keluar dari rombongan Chaplin. Reeves mengisahkan hubungan singkatnya dengan Chaplin dalam buku The Intimate Charlie Chaplin.

Paulette Goddard

Chaplin terlibat hubungan asmara sekaligus hubungan kerja dengan aktris Paulette Goddard dari tahun 1932-1940. Pada waktu itu, Goddard tinggal di rumah kediaman Chaplin di Beverly Hills. Chaplin “menemukan” bakat Goddard dan memberikannya peran utama wanita untuk film Modern Times dan The Great Dictator. Status pernikahan dengan Chaplin yang tidak mau dijelaskan Goddard membuat namanya dicoret dari calon pemeran Scarlett O’Hara untuk film Gone with the Wind. Setelah berpisah di tahun 1940, Chaplin dan Goddard mengaku keduanya pernah menikah diam-diam di tahun 1936. Pengakuan ini kemungkinan dibuat untuk mencegah rusaknya karir Goddard, karena secara pribadi Chaplin pernah mengaku tidak menikahi Goddard secara resmi. Chaplin membayar sejumlah tunjangan perceraian untuk Goddard setelah perkawinan secara hukum adat di antara keduanya berakhir damai di tahun 1942.

Joan Berry

Chaplin sempat sebentar terlibat hubungan asmara dengan aktris Joan Berry di tahun 1942. Chaplin ingin memasangnya sebagai peran utama wanita dalam film yang akan diproduksi. Hubungan mereka berakhir setelah Joan mulai menunjukkan gejala sakit jiwa. Keterlibatan singkat Chaplin dengan Joan nantinya banyak membuat repot. Setelah melahirkan anak di tahun 1943, Joan menuntut Chaplin untuk bertanggung jawab. Walaupun tes darah menunjukkan anak yang dilahirkan Joan bukanlah anak Chaplin, pengadilan tidak menerima tes darah tersebut sebagai bukti. Chaplin diperintahkan membayar dukungan finansial bagi anak Joan.

Oona O’Neill

Sewaktu berperkara dengan Joan Berry, Chaplin bertemu dengan Oona O’Neill, putri Eugene O’Neill, dan menikahinya tanggal 16 Juni 1943. Chaplin di usianya yang ke 54, sedangkan Oona baru 17 tahun. Setelah perkawinan berlangsung, ayah Oona sampai meninggal dunia tidak pernah menghubungi atau mau dihubungi putrinya. Chaplin dan Oona ternyata saling akur, Oona merindukan cinta laki-laki dengan sosok kebapakan, sebaliknya Chaplin haus kesetiaan seorang wanita muda. Perkawinan ini sekaligus digunakan Chaplin untuk mengangkat popularitasnya di mata publik yang mulai menurun. Pernikahan dikaruniai 8 anak, berlangsung lama dan bahagia. Putra Chaplin dari Oona ada 3 orang: Christopher, Eugene, dan Michael Chaplin, serta 5 putri: Geraldine, Josephine, Jane, Victoria, dan Annette-Emilie Chaplin.

Gelar ksatria

Chaplin menerima gelar Knight Commander of the British Empire (KBE) dari Ratu Elizabeth II pada 4 Maret 1975. Nama Chaplin pertama kali diusulkan sebagai penerima di tahun 1931, dan masuk dalam daftar calon untuk yang kedua kali pada tahun 1956, tapi diveto pemerintah Konservatif yang tidak ingin merusak hubungan dengan Amerika Serikat di tengah ketegangan Perang Dingin dan Krisis Terusan Suez.

Tutup usia

Chaplin wafat di usia 88 tahun dalam tidurnya pada Hari Natal tahun 1977, di Vevey, Swiss. Chaplin dimakamkan di Pekuburan Corsier-Sur-Vevey di Corsier-Sur-Vevey, Vaud, tapi makamnya dipindah di dekat Danau Jenewa setelah pernah dicuri sekelompok orang.

Trivia

Filmografi

Tanggal rilis ditulis di dalam tanda kurung

Keystone Studios
(*) tidak ditulis/disutradarai Charlie Chaplin
1914

Essanay
1915

1916

1918

  • 50. Triple Trouble (disusun 2 tahun setelah Chaplin keluar dari studio Essanay dari karya Chaplin yang belum selesai)

Lain-lain:

Wat de soyyya!!

February 25, 2009

15947_stefan_sagmeister_byyang1

Stefan Sagmeister lahir 1962 di Bregenz, Austria. Ia adalah seorang desainer grafis dan editor. Saat ini berbasis di New York City. Dia memiliki perusahaan desain sendiri, yaitu Sagmeister Inc. Dia telah merancang album-album terkenal meliputi Lou Reed, the Rolling Stones, David Byrne, Aerosmith dan Pat Metheny.

Biografi

Sagmeister belajar desain grafis di University of Applied Seni Wina. Dia kemudian mendapatkan beasiswa Fulbright untuk belajar di Pratt Institute di New York.

Dia memulai karir di desain pada usia 15 di “Alphorn”, sebuah majalah Austria Pemuda yang ternama.

Pada tahun 1991, dia pindah ke Hong Kong untuk bekerja di Leo Burnett dari Hong Kong Desain Group. Pada tahun 1993, dia kembali ke New York untuk bekerja di Tibor Kalman’s M & Co.

Stefan Sagmeister melanjutkan untuk membentuk Sagmeister Inc berbasis di New York pada tahun 1993, dan telah merancang merek, gambar, dan kemasan untuk klien yang berbeda-beda seperti yang Rolling Stones, HBO, yang Guggenheim Museum dan Time Warner. Sagmeister Inc telah memperkerjakan desainer termasuk Martin Woodtli; dan Hjalti Karlsson dan Jan Wilker, yang kemudian membentuk Karlssonwilker.

Sagmeister Inc menunjukkan bawha pekerjaannya telah terpasang di Zurich, Vienna, New York, Berlin, jepang, Osaka, Prague, Koln, dan Seoul. Dia mengajar di departemen dari Sekolah Seni Visual di New York dan telah ditunjuk sebagai Ketua Frank Stanton di Cooper Union School of Art, New York.

Dia telah menerima sebuah Grammy Award pada tahun 2005 Limited Edition Paket Khusus untuk kategori seni mengajar Setelah Lifetime dalam bidang yang telah ditetapkan oleh Talking Heads. Dia juga bekerja pada pada 2008 dengan David Byrne dan Brian Eno album Everything That Happens Will Happen Today.

Motto nya adalah “Desain memerlukan keberanian dari pencipta dan masih membawa dunia ini bersemangat di akhir pelaksanaan.”


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.